Skip to main content

METODE PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF HADITS

 Abstract

The education method is one of the things that determine the success of education in addition to material, media, and evaluation. From many factors causing failure in education, education method is one of the most dominant factors. As good as any education purposes, if not supported by appropriate methods are very difficult to achieve well. It is often mentioned that “al-thariqah ahammu min al-maddah”, (method is sometimes more important than material). Therefore the maintenance of Islamic education methods should be done carefully accordingto various related factors so that the results of education are satisfactory. Prophet Muhammad SAW as the last man chosen by Allah SWT to deliver His message, since the beginning have exemplified in implementing the correct method of Islamic education with his Sahabah. He did Learning strategy in conveying his teachings of Islam such as he is very concerned about the situation, condition and character of person. Prophet Muhammad SAW is ideal teacher and perfect figureso that Islamic values can be well transferred. Prophet Muhammad SAW also understandsinstinct and condition of each person so that anyone who gets enlightenment and education from him easily absorbs perfectly and receives it with pleasure and cordiality
Keywords : Method, Islamic Education, Hadits

Abstrak

Islam menuntut orang-orang beriman untuk belajar. Berkaitan dengan hal tersebut, banyak hadits Nabi Muhammad, baik tersirat maupun tersurat, yang memotivasi umat Islam untuk selalu mencari ilmu dan menuntut ilmu tanpa membedakan antara ilmu agama dan ilmu universal. Motivasi dapat bersifat ekstrinsik atau intrinsik. Dengan motivasi eksternal, kita dapat mengatakan beberapa hal: Sebagai orang yang mencari pengetahuan, kebajikan mengejar pengetahuan dan mengejar pengetahuan memajukan jalan menuju surga dan ketinggian. Di sisi lain, motivasi belajar yang sesungguhnya harus dilandasi oleh keinginan yang tulus untuk memperoleh keridhaan Allah. Dalam beberapa publikasi pendidikan Islam, khususnya dalam bahasa Arab, motivasi digabungkan dengan kata niat. Pemikiran Pendidikan Islam Klasik banyak membahas tentang motivasi belajar, termasuk salah satu bukunya, Konsep Belajar (Motivasi Belajar) Niyat dari sudut pandang Al Jarnuzi yang memiliki khazanah yang luas. Ta'limal Muta'al lim. Kajian terhadap naskah dan konsep Al Jarnuji menyimpulkan bahwa hal terpenting yang ditekankan siswa dalam studi mereka bukanlah untuk mencapai kesenangan dunia, tetapi untuk mendapatkan integritas dan keridhaan Allah SWT. Pemikirannya yang mendalam layak dijadikan sebagai upaya untuk mengembangkan pemahaman teori belajar dari perspektif pendidikan Islam.

Kata kunci :Metode, Pendidikan Islam, Hadits









Pendahuluan

Pendidikan sangat penting bagi kehidupan, karena dengan pendidikan seseorang dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Karena pendidik adalah kunci utama untuk mencapai cita-cita yang diinginkan semua orang, dalam hal ini pendidik harus bekerja keras. Kerja keras ini harus didukung oleh keterampilan yang dimiliki oleh seorang pendidik. Jika seseorang pendidik mempunyai kompetensi pada bidang pendidikan, maka bisa dipastikan murid akan bisa mencapai cita-citanya, begitupun menggunakan teknologi pendidikan akan mencapai tujuan yang diharapkan. Tentunya seorang pendidik wajib mempunyai metode atau cara yang sempurna pada mewujudkan itu semua.

Dalam proses pendidikan Islam, salah satu faktor terpenting demi tercapainya tujuan pendidikan merupakan metode pendidikan yang baik dan sempurna. Sehingga bisa dikatakan kedudukan metode sangatlah signifikan. Sebaik apapun tujuan pendidikan bila metode yang dipakai tidak sempurna maka tujuan tadi akan sulit tercapai. Metode akan mempengaruhi hingga atau tidaknya kabar atau informasi dan materi pendidikan. Bahkan sebagai seni pada mentrasfer ilmu pengetahuan dipercaya lebih krusial daripada materi itu sendiri. Hampir semua ilmu dari ilmu pengetahuan memiliki metodologinya masing-masing. Untuk ini, ilmu pendidikan sebagai salah satu disiplin ilmu juga memiliki metodologi, adalah metodologi pendidikan yaitu Ilmu Pengetahuan tentang metode yang dipakai pada aktivitas mendidik.

 Terkait menggunakan metode pendidikan, Rasulullah semenjak awal telah mencontohkan dan mempraktikkan metode pendidikan yang sempurna pada para sahabatnya. Strategi pembelajaran yang dia terapkan sangat seksama dan sempurna pada membicarakan ajaran Islam sebagai akibatnya nilai-nilai Islam sanggup menggunakan mudah dipahami dan dikuasai sang para sahabat. 


Dengan pendekatan linguistik ini tampaknya metode menunjukkan jalan, dalam arti jalan non-fisik, yaitu jalan berupa gagasan yang kembali ke cara memimpin seseorang untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Sedangkan menurut terminologi (istilah) para ahli memberikan berbagai definisi tentang metode, apalagi jika metode telah dibandingkan dengan kata pendidikan atau pengajaran di antaranya metode adalah suatu cara yang fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Abu Ahmadi mendefinisikan metode sebagai pengetahuan tentang cara mengajar yang digunakan oleh seorang guru atau instruktur. 







Pembahasan

Metode berasal menurut dua perkataan yaitu “ meta “ yg berarti “ melalui “ dan “ hodos “ yg berarti jalan atau cara “. Dapat disimpulkan bahwa metode merupakan suatu jalan atau cara yg dilewati untuk mencapai suatu tujuan. Adapun kata metodologi asal menurut istilah “ metoda “ dan “ logi “. Logi dari menurut bahasa Yunani “ (logos) “ yg mempunyai arti “ logika “ atau “ ilmu “. Jadi metodologi ialah ilmu mengenai jalan atau cara yg wajib  dilewati untuk mencapai suatu tujuan. Ada juga yang mengungkapkan bahwa metode merupakan suatu cara untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang dibutuhkan bagi pengembangan disiplin ilmu tersebut. Jalan untuk mencapai tujuan itu bermakna ditempatkan dalam posisinya sebagai suatu cara untuk menemukan, menguji dan menyusun data yg dibutuhkan bagi pengembangan ilmu atau tersistematisasikannya suatu pemikiran.

Dalam bahasa Arab istilah metode diungkapkan pada banyak sekali istilah. Terkadang dipakai istilah al-thariqah, al-manhaj, dan al-washilah. Thariqah berarti jalan, manhaj berarti sistem, dan washilah berarti mediator. Dengan demikian istilah yg paling dekat menggunakan metode merupakan istilah thariqah. 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa metode adalah cara untuk mencapai sesuatu. Dengan pendekatan linguistik ini, sepertinya lebih banyak metode, dalam arti rute non-fisik. Itu berarti jalan berupa gagasan yang mengacu pada jalan dalam memimpin seseorang untuk tujuan yang ditentukan. Sedangkan dalam istilah (terms) Para ahli memberikan definisi yang berbeda pada metode, terutama jika metode tersebut dikombinasikan dengan kata pendidikan atau pengajaran diantaranya: Metode adalah sarana yang fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Abu Ahmadi mendefinisikan metode sebagai pengetahuan tentang cara mengajar yang digunakan oleh guru atau instruktur. Ramayulis mendefinisikan bahwa metode Mengajar adalah metode yang digunakan oleh guru dalam membangun hubungan dengan siswa dalam proses pembelajaran.

 Oleh karena itu, metode pengajaran adalah alat untuk menciptakan proses belajar. Omar Mohammad al-Syaibani Mendefinisikan bahwa metode pengajaran menunjuk pada kumpulan kegiatan langsung yang dilakukan oleh guru dalam kerangka kebutuhan mata pelajaran yang diajarkan, ciri-ciri perkembangan muridnya, lingkungan sekitarnya serta tujuan, membantu siswanya mencapai proses belajar yang diinginkan, dan perubahan yang diinginkan dalam perilaku mereka.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh ahli mengenai pengertian metode di atas, maka bisa kita simpulkan bahwa metode pendidikan Islam adalah sarana untuk mencapai tujuan pendidikan melalui aktivitas manusia dan upaya peningkatan kepribadian. Siswa dengan berarti untuk lebih memajukan potensi yang ada pada diri sendiri. Terdapat beberapa hal pada metode, yaitu:
(a) Adanya tujuan yang hendak dicapai

(b) Adanya kegiatan untuk mencapai tujuan

(c) Aktivitas itu terjadi saat proses pembelajaran berlangsung

(d) Adanya perubahan tingkah sesudah kegiatan itu dilakukan.

Pendidikan pada arti generik mencakup segala perbuatan menurut generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, dan keterampilannya kepada generasi belia untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya pada pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Sedangkan pendidikan pada arti sempit, merupakan bimbingan yang dilakukan seseorang (pendidik) terhadap orang lain (anak didik). Terlepas berdasarkan apa dan siapa yang membimbing, yang pasti pendidikan diarahkan untuk mengembangkan insan berdasarkan banyak sekali aspek dan dimensinya, supaya murid berkembang secara aporisma  dan menggunakan sebaik mungkin.



Zuhairini merumuskan bahwa pendidikan adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang terbentang sepanjang hayat. Pendidikan tidak hanya formal, tetapi juga mencakup aspek non-formal. Dalam perkembangannya, kata pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja kepada orang dewasa supaya ia menjadi lebih dewasa. Selanjutnya pendidikan diartikan menjadi usaha yang dijalankan dengan seseorang atau gerombolan yang lain supaya dapat mencapai taraf hayati atau penghidupan yg lebih tinggi pada arti mental. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa, pendidikan merupakan suatu kegiatan ysng secara sengaja dan sistematis berdasarkan untuk meningkatkan kedewasaan siswa pada melaksanakan fungsi dan tugas hidupnya secara bertanggung jawab. Sedangkan tentang pendidikan agama Islam, parasarjana muslim menaruh pengertian berdasarkan sudut pandang yang berbeda-beda. Perbedaan tadi ditimbulkan adanya pemahaman. 

Ketika berbicara tentang pendidikan agama  Islam, para cendekiawan Muslim memberikan pemahaman dari sudut pandang yang berbeda. Perbedaan tersebut disebabkan oleh pemahaman suatu tujuan tertentu, yang disesuaikan dengan tujuan pengajaran utama. Namun, mereka pada dasarnya memiliki pemahaman dasar yang sama. Dengan definisi pendidikan Islam menurut pendidik.

Menurut Ahmad D. Marimba, mengatakan bahwa “ pendidikan Islam adalah perilaku fisik dan spiritual berdasarkan hukum Islam dalam pembentukan kepribadian utama berdasarkan ukuran “. Zakiah Daradjat mendefinisikan “Pendidikan agama Islam sebagai upaya bimbingan dan kebajikan bagi peserta didik agar kelak, setelah menyelesaikan studinya, memahami dan mengamalkan ajaran Islam dan menjadikannya sebagai visi atau gaya hidup (lifestyle) “.


Sebagaimana dikemukakan oleh Abuddin Nata, “Pendidikan agama Islam adalah upaya membimbing, mengarahkan dan mendorong peserta didik yang secara sadar diarahkan dan direncanakan agar berkembang kepribadian yang unggul sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam “.

Dari beberapa uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu upaya sistematis dan pragmatis untuk membimbing dan mengembangkan fitrah agama yang ada pada  manusia  agar  dapat memahami ajaran Islam secara utuh. Dapat dipraktekkan di dalam kehidupan sehari-hari, berupa hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia lain dalam arti yang lebih luas lagi, yaitu hubungan dengan lingkungan alam. 


Metode Pendidikan Islam Dalam Perspektif Hadits

Metode Pendidikan Islam Dalam Perspektif Hadits adalah metode yang memberikan penjelasan materi secara teknis biasanya dilakukan di depan siswa atau di depan banyak orang. Menurut Zuhairini, metodenya pembelajaran adalah metode pengajaran dimana cara penyajian argumentasi kepada siswa adalah dengan cara penjelasan dan narasi lisan. Sebuah fitur penting dari metode pengajaran adalah bahwa peran guru tampaknya lebih dominan. Selama ini siswa lebih banyak pasif dan menerima apa yang disampaikan oleh guru.

Rasulullah bersabda yang artinya: “Dari Abdullah Bin Umar, Rasulullah bersabda, “Wahai sekalian wanita, bersedekahlah dan perbanyak istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian banyak yang menjadi penghuni neraka.” Mereka berkata,
“Mengapa demikian Rasulallah? ”Beliau menjawab, “Kalian banyak melaknat dan mengingkari (kebaikan) pasangan. Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya menghilangkan akal seorang laki-laki yang teguh daripada salah seorang diantara kalian.” Hadits ini menginformasikan bahwa Rasulullah memberikan ceramah kepada para wanita dengan materi anjuran bersedekah. Setelah beliau menyampaikan materi ceramah, sahabat wanita bertanya, ia meminta penjelasan lebih lanjut Kepada beliau. Dengan demikian, Beliau menggunakan metode ceramah dan dialog dalam menyampaikan pesan kepada para sahabat.

Menurut Armai Arif, sebagai salah satu metode pembelajaran, metode ceramah memiliki sejumlah kelebihan, yaitu sebagai berikut: 

a) Suasana kelas berjalan dengan tenang karena murid melakukan aktivitas yang sama, sehingga guru dapat mengawasi murid secara komprehensif.

b) Tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang lama. Dengan waktu yang singkat, dapat menerima pelajaran secara bersamaan.

c) Pelajaran di dapat dengan cepat, karena dalam waktu yang sedikit dapat diuraikan bahan yang banyak.

d) Melatih para pelajar untuk menggunakan pendengarannya dengan baik sehingga mereka dapat menangkap dan menyimpulkan isi ceramah dengan cepat dan tepat.


Metode ceramah

 Sifanya lebih monolog, akan tetapi biasanya komunikasi satu arah kurang mengaktifkan logika lawan bicara. Oleh sebab itu Untuk mengantisipasi kepasifan dan kejenuhan anak didik karena metode ceramah, pendidik perlu mengkombinasikan metode ini dengan metode lain yang relevan. Apabila kita mengambil pelajaran dari hadits di atas, maka tampak bahwa selain menggunakan metode ceramah Rasulullah juga melengkapinya dengan metode diskusi dan tanya jawab


Metode Pembiasaan dan Hukuman 

Sehubungan dengan penggunaan metode pembiasaan dalam pendidikan, dapat dilihat di dalam Hadits yang artinya: “Dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dan kakeknya, Rasulullah SAW. berkata “Suruhlah anakmu mendirikan Shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika ia berumur sepuluh tahun (pada saat itu), pisahkanlah tempat tidur mereka.” 


Hadits di atas menjelaskan beberapa hal, diantaranya yaitu:

 a) Orang tua harus menyuruh anak mendirikan Shalat mulai berumur tujuh tahun

b) Setelah berumur 10 tahun ternyata anak meninggalkan Shalat, maka orang tua boleh memukulnya

 c) Pada usia 10 tahun itu juga, tempat tidur anak harus dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, juga antara ada anak dan orang tuanya.

Kebiasaan belajar adalah proses pelatihan kebiasaan atau peningkatan kebiasaan yang ada. Lebih tepat, positif serta dikonstektualkan dengan situasi dan kondisi. Dari segi hukum, usia 7 tahun, belum di bawah beban taklif. Antara usia 7 dan mukallaf ada perbedaan sekitar 7 - 8 tahun, sehingga dapat dipahami bahwa Nabi memerintahkan anak berusia 7 tahun untuk mendirikan shalat dengan niat mereka. Bahwa setelah mukallaf akan terbiasa dan tidak kesulitan melakukannya.

Selain itu hadits diatas pula memuat metode sanksi. Rasulullah SAW. Menyuruh orang memukul anak apabila sang anak meninggalkan Shalat setelah berusia sepuluh tahun. Anak yg sudah berusia sepuluh tahun namun masih meninggalkan Shalat, ditinjau sudah melakukan pelanggaran. Oleh karena itu, sepantasnya orang tua memberikan sanksi. Hal itu dimaksudkan supaya anak menyadari kesalahannya sebagai akibat dari meninggalkan shalat dan agar tidak mengulangi kesalahan tersebut. hal itu sinkron menggunakan apa yang dikemukakan oleh M. ngalim Purwanto. Menurutnya, sanksi merupakan penderitaan yang diberikan atau disebabkan menggunakan sengaja dari seseorang (orangtua atau guru) selesainya terjadi suatu pelanggaran atau kesalahan. menjadi indera pendidikan, sanksi hendaklah :


(1) Senantiasa merupakan jawaban atas suatu pelanggaran

(2) Sedikit banyaknya selalu bersifat tidak menyenangkan

(3) Selalu bertujuan ke arah memperbaiki demi kepentingan anak itu sendiri.


Prinsip pokok dalam mengaplikasikan pemberian hukuman ialah bahwa hukuman adalah alternatif terakhir dan harus dilakukan secara terbatas serta tidak menyakiti anak didik. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk menyadarkan dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan. Harus ditekankan bahwa ini adalah perintah. Rasulullah SAW memerintahkan untuk memukul anak yang meninggalkan shalat itu. 10 tahun doa Pukulan ringan yang tidak sakit atau menyinggung. Juga, itu dapat dipahami sebagai Anak-anak meninggalkan sholat pada usia ini Itu harus diberi sanksi (hukuman) agar dia sadar. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan saya. Karena itu tidak dapat dikatakan bahwa Rasulullah SAW dilegalkan, kekerasan terhadap anak (KDRT) atau menganiaya anak didik.


Metode Dialog/Diskusi

Metode diskusi adalah semacam presentasi/pendidik menyediakan bahan ajar Memberikan kesempatan kepada siswa Diskusikan dan analisis secara ilmiah Mendengarkan pendapat dan menarik kesimpulan Atau menyusun berbagai alternatif solusi beberapa masalah. Abdurrahman An Nahlawi berkata: Cara ini disebut hiwar (dialog). Definisi Metode tanya jawab lainnya adalah gaya presentasi. Pelajaran berupa pertanyaan yang harus diajukan Terutama dari guru ke siswa, atau Dari siswa hingga guru.

Berkaitan dengan ini, terdapat Hadits yang artinya: “Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu bertanya,“Ya Rasulullah, siapa orang yang paling berhak mendapat perlakuan baikku? ” Rasulullah menjawab, “ Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi, “ Siapa lagi? ” Rasulullah menjawab, “ Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi,
“ Kemudian siapa lagi? ” Rasulullah menjawab, “ Ibumu.” Laki-laki itu berkata lagi
(untuk kali yang keempat), “ Kemudian siapa lagi? “ Rasulullah menjawab, “ Ayahmu.”

Dalam hadits   lain disebutkan yang artinya sebagai berikut: “ Mu’adz bin Jabal meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,” Apakah kamu tahu, apa hak Allah terhadap hamba-nya?” Mu’adz menjawab,  “Allah dan Rasulnya yang lebih tahu ” Rasulullah bersabda,
“ Sesungguhnya hak Allah terhadap hambanya adalah hamba yang menyembahnya dan tidak mempersekutukan-nya dengan suatu apapun “  kemudian Rasulullah berjalan sesaat lalu berkata, “ Hai, Mu’adz bin Jabal.” Saya menjawab, “ Saya selalu siap untuk kau, ya Rasulullah ” Beliau bertanya, “ Apakah kamu tahu hak hamba terhadap Allah Apabila mereka melakukan itu (menyembahnya dan tidak mempersekutukan-nya dengan suatu apapun) ”
saya menjawab, “ Allah dan Rasulnya yang lebih tahu.”  Beliau bersabda,
“Tidak mengazab mereka.”

Kedua hadits diatas memuat informasi bahwa Rasulullah dalam mendidik atau mengajar beliau menggunakan metode dialog atau memberikan kesempatan kepada para sahabat untuk berpendapat. Dialog ada yang diawali dengan pertanyaan sahabat kepada Nabi dan ada pula yang diawali dengan pertanyaan beliau kepada sahabat.

Metode dialog (hiwar) sangat baik digunakan dalam dipelajari karena memiliki beberapa keunggulan dan keuntungan diantaranya :

(a) situasi kelas akan ada karena anak-anak secara aktif merefleksikan dan mentransmisikan berpikir

(b) melatih anak untuk berani mengemukakan pendapatnya

(c) Penyebab munculnya perbedaan pendapat antar siswa memfasilitasi diskusi 

(d) mendorong siswa lebih aktif dan serius

(e) Meskipun agak lambat, guru dapat mengendalikannya pemahaman siswa tentang masalah pertanyaan yang dibahas

(f) dapat diajukan anak mengevaluasi kebenaran sesuatu 

(g) ​​pertanyaannya mungkin menarik perhatian anak

(h) pertanyaan dapat menyebabkan anak perlu ingat (saya) minta bisa charge memperhatikan

 (j) mengembangkan keberanian serta keterampilan siswa dalam menanggapi. 

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa dialog atau metode hiwar digunakan oleh Nabi pada abad ke-14, ternyata tetap relevan dan diakui oleh para profesional pendidikan modern. Pendidik tidak perlu ragu lagi. Namun, kapasitas dibutuhkan kepada seorang guru untuk memprediksi gagal atau tidaknya karena yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan pembelajaran mereka.





            Metode Demonstrasi atau Keteladanan

Metode demonstrasi adalah metode mengajar yaitu dimana guru akan mendemonstrasikan teknik dan proses untuk mengimplementasikan sesuatu kepada siswa agar memperhatikan. Saat melatih siswa, Rasulullah SAW sudah berkali-kali menggunakan cara ini. Apalagi saat menjelaskan masalah di sekitarmu ibadah seperti sholat, mandi, dan ritual haji. Seharusnya mudah untuk teman-teman pahami dan jangan salah anda dapat melakukannya dan mempraktikkan tata kelola bagaimana cara beribadah yang benar setelah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.   

Berkenaan dengan metode ini ditemukan banyak Hadits. Salah satu contoh dapat dilihat dalam pengajaran kaifiyah shalat, kedisiplinan waktu dalam menegakkan shalat, dan membentuk ketekunan beribadah. Berikut salah satu Hadits   yang berbicara tentang demonstrasi yang artinya: “Aisyah berkata , Rasulullah SAW. Memulai shalat dengan takbir dan memulai bacaan dengan alhamdulillahirabbilalamin. Apabila ruku’ beliau tidak mendongakkan kepalanya dan tidak (pula) menundukkannya, tetapi di antara itu. Apabila bangkit dari ruku’ beliau tidak sujud sebelum berdiri betul-betul lurus. Apabila mengangkat kepalanya dari sujud, Beliau tidak sujud lagi hingga duduk betul-betul. Beliau membaca tahiyat di tiap-tiap dua rakaat, membentangkan kaki kirinya Dan mendirikan kaki kanan. Beliau melakukan uqbah asy-syaitan (Cara duduk setan, yaitu menghamparkan dua tapak kaki dan duduk di atas dua tumitnya) dan melarang seorang membentangkan dua lengannya (di tanah/lantai) sebagai bentangan binatang buas. Selanjutnya, beliau mengakhiri shalatnya dengan salam.”

Dalam Hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW memberikan keteladanan dalam hal mengerjakan shalat segera setelah waktunya masuk. Beliau meninggalkan segala aktifitas dan pekerjaannya ketika adzan dikumandangkan. informasi ini dapat dilihat dari Hadits yang artinya: Dari “ Aisyah “ aku bertanya kepada Aisyah, “ Bagaimana keadaan Nabi SAW. ketika bekerja “ Aisyah menjawab, “ ketika beliau bekerja untuk urusan keluarganya, lalu masuk waktu shalat, maka beliau langsung keluar (Berhenti bekerja) lalu shalat.”


Metode Targhib dan Tarhib

Metode pengajaran adalah Guru menyediakan bahan ajar penggunaan imbalan untuk kepentingan (targhib) hukuman untuk keburukan (tarhib) memungkinkan anak-anak Belajar berbuat baik dan menjauhi kejahatan. Rasulullah banyak menggunakan targhib dalam mendidik temannya (Ummah). Diantaranya dapat dilihat dalam Hadits yang artinya sebagai berikut: “Aku mendengar Abdullah bin Masud berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “ Siapa yang membaca satu huruf Alqur’an mendapat pahala satu kebaikan. satu kebaikan dilipatgandakan menjadi Sepuluh. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf. Akan tetapi, Alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. ”

Menumbuhkan gairah dan minat ibadah tinggi (membaca dan mendirikan Sholat Jum'at dengan Al-Qur'an), Rasulullah dengan menggunakan metode targhib, dengan menggunakan metode ini, beliau membangun dan membangkitkan kegembiraan dan melakukan dengan anak didik. Dia mengirimkan informasi ini berupa janji pahala dari Allah SWT. Di sisi lain, tarhib adalah ancaman hukuman yang disebabkan karena dosa, kesalahan, dan hinaan pelaksanaan kewajiban yang diperintahkan dari Allah dan para Rasulnya. Tarhib juga bisa diartikan sebagai ancaman dari Tuhan karena hambanya melakukan kesalahan dan tidak melakukan suatu ketaatan.

Sedangkan tarhib adalah ancaman hukuman yang disebabkan oleh pelanggaran, kesalahan selain meremehkan pelaksanaan tugas yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya atau keutamaan sifat, Keagungan, dan Kekuatan Agar mereka diingatkan agar tidak melakukan kesalahan. Sehubungan dengan ini terdapat Hadits, yang artinya : “ Barang siapa yang berbuka puasa pada hari di bulan Ramadhan tanpa memilikinya rukhsah yang diberikan oleh Allah tidak bisa berbuka meskipun puasa sepanjang waktu. "

Di bulan Ramadhan, semua orang muslim diwajibkan mengerjakan puasa. Hanya orang-orang yang memiliki alasan tertentu saja yang boleh meninggalkannya, seperti karena sakit, bepergian, hamil, menyusui, serta lanjut usia. Orang yang tidak memiliki alasan tersebut tidak diperkenankan untuk tidak berpuasa. Oleh karena begitu besarnya dosa bagi yang melanggar ketentuan ini, maka dalam Hadits ini Rasulullah mengancam orang orang yang meninggalkan puasa dengan ancaman yang berat, yaitu tidak dapat mengganti satu hari puasa yang ditinggalkannya itu walaupun ia berusaha untuk membayarnya seumur hidup. Dengan demikian, Beliau menggunakan tarhib (ancaman) agar tidak ada orang beriman yang melanggar perintah Allah. Dalam Hadits  lain disebutkan:  Ummu Aiman meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “ Janganlah kamu meninggalkan shalat dengan sengaja karena orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja terlepas dari naungan Allah dan Rasul-Nya.”


            Metode Perumpamaan (Amtsal)

Yaitu metode mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan, menuturkan sesuatu guna menjelaskan suatu keadaan yang selaras dan serupa dengan yang dicontohkan, sehubungan dengan metode ini ditemukan Hadits sebagai berikut: “Abu Musa al-Asyari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “ Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Alqur’an adalah bagaikan buah utrujjah, aromanya harum dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Alqur’an adalah bagaikan buah kamar (kurma). aromanya tidak ada, tetapi rasanya manis. Perumpamaan seorang munafik yang membaca Alqur’an adalah bagaikan buah Raihanah.Aromanya harum, tetapi rasanya pahit. perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca Alqur’an adalah bagaikan buah hanzhalah. Aromanya tidak ada dan rasanya pahit.”

Berdasarkan hadits yang disampaikan Ini memiliki nilai pendidikan sebagai berikut:

  1. Rasulullah menghadirkan perbandingan kualitas seseorang dengan buah-buahan yang bermanfaat dan tidak berguna dalam kehidupan manusia. 

  2.  Dalam mendidik seseorang Rasulullah mengambil pendekatan rasional fungsional. Dengan pendekatan yang rasional dan manusia diajak berfikir untuk memikirkan mana yang benar, mana yang kurang baik, yang sangat buruk. Dengan pendekatan fungsional, beliau memperkenalkan manfaat yang di dapat apabila kepada orang-orang diterima dari seseorang ketika mereka memiliki sesuatu yang baik dan kerugian yang akan timbul apabila memilih hal yang sangat tidak baik.

  3. Iman yang benar harus dibuktikan dengan perbuatan yang sholeh. Amal yang baik perlu didasarkan pada keyakinan yang benar. Kompatibilitas keduanya dapat meningkatkan derajat manusia di sisi Allah. Memilih salah satunya saja tidak dapat menjamin kualitas seorang mukmin


            Metode Pengulangan (Tikrar) dan Latihan

Metode review adalah metode pengajaran dimana guru menyediakan bahan ajar dengan mengulang materi dan berharap para siswa akan lebih ingat materi yang telah disajikan. Dalam implementasi dapat digunakan berulang kali sebelum pemberian bahan untuk menilai tingkat kemahiran anak anda juga dapat belajar setelah materi disampaikan Diajarkan dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan ingat dan tingkatkan perolehan materi yang sudah disampaikan. 

Berkaitan dengan metode tersebut terdapat Hadits sebagai berikut: “Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah masuk masjid. Kemudian masuklah seorang laki-laki dan melakukan shalat. Setelah itu, ia memberi salam kepada Nabi dan beliau menjawab salamnya seraya bersabda, “Kembali dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Kemudian Ia datang memberi salam kepada Nabi dan Beliau bersabda, “Kembali dan shalatlah, karena Sesungguhnya engkau belum shalat. (tiga kali) “ . Laki-laki itu berkata, “ Demi zat yang mengutusmu dengan benar, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik darinya, maka ajarilah aku.” Beliau bersabda, “ Apabila engkau berdiri untuk shalat maka bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Alqur’an, lalu ruku’ hingga engkau tuma’ninah (tenang) di dalamnya. Kemudian bangkitlah hingga engkau berdiri. Kemudian sujudlah hingga engkau tumakninah dalam sujud, lalu bangkitlah hingga engkau tumakninah dalam duduk. Lakukanlah itu semua dalam shalatmu.”

Hadits di atas memberikan penjelasan beberapa hal, yaitu (a) Nabi melihat seorang laki-laki sholat di masjid. (b) Nabi memerintahkannya ulangi doa anda karena itu salah. (c) Laki-laki ulangi doa seperti yang anda lakukan di awal; (d) Nabi memerintahkan hingga tiga lagi untuk diulang. Cali; (e) Laki-laki itu mengulangi shalatnya sampai setidaknya 3 kali; (f) kemudian Dia mengakui bahwa dia tidak bisa lagi melakukannya lebih baik berdoa dan meminta dari pada itu Nabi mengajarinya. (g) Nabi mengajarkan kaifiyah shalat. Rasul Allah tidak melakukannya di sini ajari teman anda bagaimana melakukannya secara langsung sholat yang benar, tapi pertama setelahnya itu diulang. Dalam hal ini, prinsipnya terlihat metode yang dipakai adalah metode pengulangan.


Metode Cerita (Qisshah)

Metode cerita adalah metode yang dibawakan dengan menceritakan peristiwa sejarah penting meliputi nilai moral, agama, sosial dan budaya seperti entah itu tentang sebuah cerita, baik dan buruk. Metode ini meliputi: tentang tindakan dan pengalaman atau penderitaan orang lain. Untuk metode Kisah ini memiliki hadits yang artinya sebagai berikut: DariAbu Hurairah RA, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “ Ketika seorang lelaki sedang berjalan tiba-tiba ia merasa sangat haus sekali, kemudian ia menemukan sumur lalu ia masuk kedalamnya dan minum, setelah keluar dari sumur tiba-tiba datanglah seekor anjing menjulurkan lidahnya dan menjilati tanah karena sangat haus, lelaku itu berkata: “ anjing itu sangat haus sebagaimana aku, kemudian ia masuk kembali ke sumur dan memenuhi sepatunya dengan air kemudian haus lagi sambil menggigit sepatunya ia memberi minum anjing yang kehausan tersebut lalu Allah bersyukur kepadanya dan mengampuninya, sahabat bertanya wahai Rasulullah, apakah mendapat pahala karena kita menolong hewan? Rasululllah menjawab disetiap orang yang memiliki limpa basah ada ganjarannya. ”

Berdasarkan hadits di atas, kita dapat melihat bahwa Rasul Allah sering menggunakan metode bercerita dalam memberikan pendidikan temannya karena dia punya cara bercerita untuk memberikan kesan yang mendalam dan menarik siswa sehingga dapat memotivasi mereka lakukan yang baik dan hindari hal-hal kejahatan menurut pesan moral apa manfaat yang diceritakan dalam cerita tersebut? Anda dapat menggunakan metode mendongeng ini untuk melatih kekuatan genggaman Anda Mengembangkan kemampuan berpikir dan konsentrasi siswa menciptakan suasana yang nyaman di dalam kelas, menghibur dan menyenangkan siswa.


Metode Maui’zhah

Mau`izhah memberi nasihat, serta mengingatkan seseorang dengan kata-kata yang baik untuk sesuatu yang bisa meluluhkan hatinya dan hal itu dapat berbentuk pahala atau hukuman hingga ia menjadi ingat. Berkaitan dengan metode ini terdapat Hadits yang artinya: Umar bin Abi Salamah berkata, “ Dulu aku menjadi pelayan di rumah Rasulullah Ketika makan, biasanya aku mengulurkan tanganku ke berbagai penjuru. Melihat itu Beliau berkata, “ Hai Nak, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu. ” Sejarah di atas berarti beberapa nilai tarbawiyah yang bisa diterapkan di dunia pendidikan putra. Najib Khalid sehubungan dengan hadits ini Al-Amir menjelaskan:

A. Nabi selalu meluangkan waktu untuk makan bersama anak-anak. Metode ini dengan tujuan untuk memperkuat ikatan antara pendidik dan siswanya. Dengan cara ini kita dapat memperbaiki berbagai kesalahan apa yang mereka lakukan melalui dialog terbuka dan berdebat. 

B. Waktu yang dia pilih sangat tepat. Dia langsung ditegur atas kesalahan Umal bin Abi Salamah terjadi beberapa kali kebiasaan ini menjadi kebiasaan sehari-hari. Jika tidak memeriksanya, maka akan sulit untuk memperbaiki kesalahannya. Bahkan jika itu bisa dilakukan, maka akan membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih kuat lagi. Untuk ini, Melihat metodenya di atas, perbaiki kebiasaan buruk sesegera mungkin. Model pendidikan ini wajib diambil oleh pendidi dan orang tua. 

C. Ia tidak hanya mengoreksi kesalahan Umar Bin Abu Salamah dalam berpindah tangan . Semua nasehat yang ia sampaikan, dari tata krama duduk hingga makan. Berdasarkan fakta di atas, harus dicari jumlah yang salah. Misalnya, ketika orang tua mengetahui bahwa penyebab merokok pada anak-anak mereka adalah efek bersosialisasi dengan teman-teman mereka; orang tua menyebut merokok, melarang anak membeli rokok dan berkencan dengan teman sebagai pengaruh buruk . Semoga ke depan, orang tua tidak lagi melihat perilaku buruk anak-anak mereka.

D. Tata letak yang tepat dapat diperhatikan melalui hadits tahun di atas memberi contoh. Susunan yang ilmiah dan tepat sangat membantu usaha untuk mengoreksi kesalahan, dalam nasehatnya ia menggabungkan hati (ghulam) anak dan Tuhannya ketika ia mulai makan Dia menyuruhnya membaca basmalah terlebih dahulu. Metode ini adalah cara alami otak anak untuk mencintai Allah dan sekaligus agar dia mengerti bahwa Dialah yang memberinya makanan berupa makanan. Tanpa itu, kita pasti akan mati kelaparan dan kehausan. Dengan cara ini cinta mereka kepada Allah akan bertemu ketika mereka mulai mencintai Tuhan, pada saat itu juga ingat dan mereka siap menerima apa pun yang disebut Allah . Dengan cara ini, pendidik telah berhasil menghubungkan siswa dan penciptanya.






SIMPULAN


Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa metode pendidikan Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Terlepas dari kualitas materi yang disampaikan tanpa metode yang tepat, maka akan tidak sampai dan tidak dimengerti oleh siswa. Metode pendidikan Islam adalah sarana untuk mencapai suatu tujuan pendidikan melalui kegiatan dan usaha manusia meningkatkan karakter siswa dengan bagaimana membangun potensi yang ada di dalam individu dan dengan cara yang terbaik.

 Metode Pendidikan Islam dari Perspektif Hadist adalah metode pendidikan dalam Islam menurut Pandangan hadits atau metode pengajaran diterapkan dan diilustrasikan oleh Nabi Muhammad lalu dilihat melalui hadits yang diriwayatkan untuk metode pendidikan seperti diterapkan oleh Nabi dalam bidang pendidikan dan sampaikan oleh ajaran Islam kepada teman-temanmu (Perspektif Hadis) meliputi, Metode ceramah, Metode Kebiasaan dan Hukuman, Metode dialog dan diskusi (Hiwar), Metode pengulangaan dan pelatihan, Metode perbandingan (Amsal), Metode ceramah, demonstrasi atau metode keteladanan, Metode naratif targhib (cerita) dan metode Tarhib, dan Metode Mau'izhah.

Nabi Muhammad SAW sebagai pendidik kebenaran yang telah dipilih Allah SWT untuk menyampaikan Risalahnya, sejak awal, diilustrasikan dalam implementasi metode pendidikan Islam yang benar kepada teman-temannya untuk nanti ditiru oleh para pendidik di masa berikutnya di antara nya, strategi pembelajaran yang ia rancang sangat tepat dan tepat, dalam menyampaikan pelajaran Muslim, dia sangat prihatin dengan situasi, situasi dan kepribadian seseorang, Rasulullah SAW adalah citra guru yang ideal dan sempurna, sehingga nilai-nilai keislaman dapat tersampaikan dengan baik dan dapat diterima oleh teman dan pengikutnya.


Comments